Pos

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Antara Aku dan Perahu

ketika kita diterpa ombak
siapa yang menangis lebih dulu?
aku atau kau, perahu?

ketika kita oleng
siapa yang mabuk dan muntah lebih dulu
aku atau kau, perahu?

ketika tiada siapapun di dekat kita
siapa yang berteriak seperti orang gila?
aku atau kau, perahu?

ketika angin meniup kita ke sana kemari
siapa yang hampir siup
aku atau kau, perahu?

ketika kita tak kunjung sandar di dermaga
siapa yang putus asa lebih dulu?
aku atau kau, perahu

dan ketika dermaga serasa mimpi
siapa yang khusuk berdoa?
aku atau kau, perahu?

Bingung

aku merasa dikhianati diri sendiri
perihal cita-cita yang tak lagi kumengerti
masa depan menjadi lebih ngeri
dan kuatlah keinginanku untuk mati

tapi semalam aku baru saja bermimpi
ragaku mati dan jiwaku sedih sendiri
banyak yang akan kutinggalkan
banyak yang harus kulupakan

lalu bagaimana lagi aku ini?
mengapa hanya berputar-putar di sini?
tak bisa 'tuk tak mengasihani diri
malah rasa cinta kepada keakuan makin menjadi

ya, pada akhirnya semua sepi
pada akhirnya aku hanyalah ilusi
tiada yang mengenang
dan aku harus siap ditendang

tiada yang mengarang tentang hidupku
tiada kisahku yang 'kan jadi buah tutur

dan sampai dunia 'mengasihani diri' ini
aku juga masih gelisah dan bingung sendiri

Nanti

setelah nanti semua berlalu
ribuan butir air mata akan tumpah
entah di atas kubur para leluhur
atau di kaki orangtua yang tak mau dihibur

kemanakah aku berlari, setelah nanti
semua terjadi
langit tetap biru, tapi hatiku jadi kelabu

ribuan hari yang akan datang
akan menjadi musim paceklik
dan aroma bau tubuhmu yang mewangi
menjadi rindu yang menjadi-jadi

dan nanti...
setelah semua rasa kembali diam
maka yang ada jalan untuk pulang kepada
Yang Awal
bukan lagi kepada dunia yang penuh bual

Tulahkah?

benarlah katamu
aku kuliah di kamar ini
memikirkan perihal diri sendiri
mengelus-elus kenyamanan
tanpa berpikir tentang masa depan

berkutat dengan angan
mengejar-ngejar pujian
dan duduk diam tanpa tindakan

kurenungi segala kebobrokan
dan prestasi dan sanjungan
telah mentah menjadi hinaan

jiwaku penuh borok
oleh lemparan dukaku
meringis kesakitan karena ulah sendiri
menangis minta kasihan pada sial yang diamini

tulahkah?
sialkah?

dan aku masih berkutat dengan wajahmu
sambil diam-diam mau mati
sebelum segalanya jadi semakin berdosa

Malaikatmu

sayap-sayap malaikat menyertaimu
ketika bangun, ada doa yang kaulupakan
berlari ke kamar mandi
dan setelah itu memegang gadget

hari ini hari libur
permainan gadget menjadi seribu tahun
tidak kauingat lagi ratap malaikat
di sisimu yang tak nampak

seberapa pentingkah dunia ini
untuk tidak menganggap-Nya penting lagi
bahkan untuk berterima kasih kepada
malaikat-Nya saja, kau lupa

malaikatmu sudah menjadi dongeng
masa lampau
sudah menjadi sejarah yang sekedar
dikagumi sesaat, lalu dilupakan

malaikatmu bersusah merangkul hatimu
kepada Dia
dia punya tugas yang kau gagalkan

Dia tidak pernah salah
tapi kelembutan hati yang dimiliki
memberi rasa iba dan kecewa padamu

: malaikat itu selalu punya cara menghibur diri

Tiga Tahun, Sayang

tiga tahun kepergianmu
pulang ke kampung halaman, sayang
dan tiga tahun itu
tak kudengar lagi kabar tentangmu

setelah putus asa dan menangis sejadi-jadinya
kau pergi serupa orang yang gagal di perantauan
pergi dengan tangan yang tak membawa apa-apa
pergi dengan tidak meninggalkan pesan apa-apa

tiga tahun aku merindumu, sayang
setelah semua sikap tak peduli
dan tak lagi memperhatikan
sampai sadar kau telah hilang

tiada tanda kau akan kembali
melucu di depanku seperti orang bodoh
dan terdiam ketika kumemandang matamu
dengan keseriusan

tiga tahun doaku tak kunjung putus, sayang
aku berharap kau pulang ke sini
ke tanah di mana kita dibesarkan
aku rindu sejadi-jadinya

aku menangis di atas sesal
baru sadar aku mencintaimu sejak dulu
dan kututup rasa itu
tanpa sadar resikonya yang sial

tiga tahun, sayang
kuharap kau sadar aku merindukanmu
jangan mati dulu
sebelum aku dan kau bersatu

Rahasia Para Pelacur yang Lari dari Razia

Pelacur-pelacur melarikan diri
Razia sabtu malam mengejutkan mereka
"Tak ada yang bilang kalau akan ada razia,"
ujar seorang
"Tak ada yang bilang kalau kau menyembunyikan rahasia,"
ujar lawan bicaranya
sementara mereka berlari
reranting pohon manggut-manggut dihentak angin
"Sini-sini sembunyi dibalik tubuh kami,
selepas itu bukalah baju kalian dengan penuh kepasrahan"
ya, semuanya sama saja
perihal lelaki hidung belang atau yang bersifat kejantanan
semuanya menyukai takdir patriarkhi
tapi ini zaman emansipasi
bahkan mungkin sudah sejak dulu
emansipasi dimulai,
sejak adam dan hawa diciptakan

perempuan adalah setara, bukan anak buah laki-laki
laki-laki yang bekerja, perempuan merahimi
laki-laki yang bekerja, perempuan menyusui
laki-laki yang bekerja, perempuan membesarkan
dan di masa tua
mereka sepasang menikmati masa tua
dengan bahagia
racikan cinta dari anak-anak yang mereka besarkan
dan cucu-cucu yang mereka dapatkan

tapi nasib tak memihak pelacur-pelac…