Kembali ke Seminari

Kembali masuk ke Seminari mungkin adalah hal terbodoh yang pernah kau lakukan. Kurang lebih dua tahun lalu kau memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikanmu di Seminari Tinggi. Setahun kau menganggur. Lalu setelah itu kau memutuskan untuk masuk kuliah. Kau memilih tempat kuliah yang jauh dari "rumah". Di tempat dimana banyak temanmu yang berkuliah di sana. Baik itu teman-teman masa kecilmu maupun juga teman-teman Seminarimu.
Awalnya semua tampak baik-baik saja, meski ada sesuatu yang sempat kausadari bergejolak di dalam hati. "Sesuatu" itu sebenarnya sudah lama berbisik semenjak kau menganggur sebelumnya. Sesuatu itu yang berusaha kau tutupi dengan kesenangan dan kegalauan asmara basi, dengan bersikap sok pintar dan sok bijak karena keunggulan title seminari, dan juga angan-angan yang untuk mewujudkannya saja, kau tampak tak berniat sama sekali. Angan-angan biarlah jadi angan-angan. Dan sesuatu itu bergerak menekanmu di pertengahan masa kuliahmu, di semester pertama.
Kau mulai bertanya-tanya. "Kenapa aku? Apa aku jenuh? Apa penyebabnya? Apa karena keuangan yang tampak mahal? Apa karena kemalasan?". Pertanyaan-pertanyaan itu membawamu pada satu kesimpulan. KAU BOSAN KULIAH DAN KAU INGIN BEKERJA. Namun, di kedalaman hati masih ada sesuatu yang kau sembunyikan, yang tidak mau kauakui, dan tidak kau biarkan mencuat keluar. Sesuatu itu adalah sesuatu yang selama ini bergejolak di hatimu. Dan setelah mengakhiri semester pertama semuanya terkuak. Kau masih menginginkan dan merindukan Seminari. Kau harus kembali dan akhirnya kau memutuskan, "Ya. Aku kembali!"
Kau juga tidak tahu apakah kau bisa menyelesaikan pendidikan itu dan menjadi seorang Pastor atau tidak. Yang terpenting bagimu sekarang adalah berusaha menjawab panggilan itu, rasa penasaran yang selama ini menggelayut di hatimu. Perihal kau jadi apa, kauputuskan untuk menyerahkannya kepada Tuhan.

Komentar